Wisata > Kawah Ijen

Budi Daya > Lebah

Wisata > Candi Kidal

Design > Api

Kesehatan > Kulit Bawang Merah

Kuliner > Sate Ayam

Budaya > Tari Gandrung Banyuwangi

Tampilkan postingan dengan label ANGKASA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANGKASA. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2011

Perbedaan Asteroid Komet dan Meteoroid


Menurut Near Earth Object Program NASA, asteroid merupakan benda berbatu yang ukurannya relatif kecil, tidak aktif, dan mengorbit Matahari

Komet, juga berukuran relatif kecil namun kadang merupakan sebuah benda aktif yang menguapkan es yang ia miliki saat terkena sinar matahari dan membentuk atmosfir (coma) yang terdiri dari debu dan gas. Terkadang, karena komet bergerak cukup cepat, ia membentuk ekor yang terdiri dari debu dan atau gas.


Meteoroid sendiri merupakan partikel kecil yang terlepas dari komet ataupun asteroid. Dari ketiganya, asteroid merupakan benda yang paling menarik untuk dipelajari para ilmuwan.
Seperti diketahui, sampai sejauh ini, ilmuwan belum bisa memahami sepenuhnya bagaimana kehidupan awal terbuat dari zat organik yang tidak hidup, bisa tumbuh dan berkembang di Bumi. Dengan mempelajari asteroid, kita bisa mengetahui lebih banyak.


Dilansir Fox News, 30 Juni 2011, asteroid seperti 2 Pallas dan 10 Hygiea, yang diyakini pernah memiliki air, tampak memiliki senyawa organik (berbasis karbon) di dalamnya.
Saat ini, asteroid tersebut memiliki komposisi kimia yang lebih primitif dibandingkan dengan Bumi. Kondisinya serupa dengan saat tata surya kita masih baru terbentuk, menurut Carol Raymond, Deputy Principal Investigator NASA.  Dengan mempelajarinya, kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan bisa muncul di planet ini,


Raymond menyebutkan, ada beberapa kondisi yang menjadikan Bumi sangat kondusif  bagi kehidupan di masa lalu. Selain itu, ilmuwan berpendapat bahwa asteroid yang mendarat di Bumi pada zaman dahulu kala telah memberikan materi pembentuk yang membantu memulai kehidupan di planet ini.

Baca Juga
  • Bulan
  • Kesetiaan Bumi
  • Durasi Satu Haru Planer Neptunus
  • Ledakan Supernova
  • Bekas Ledakan Supernova

    Lebih dari 400 tahun lalu, astronom Denmark, Tycho Brahe, mempelajari ledakan bintang yang kemudian diberi nama Tycho supernova. Namun ketika itu, tidak banyak informasi yang bisa didapat.



    Kini astronom dapat melihat lebih detil ledakan supernova itu dengan sinar X. Menggunakan Chandra X-ray Obeservasory milik NASA, tampak puing-puing supernova itu menjadi seperti gelembung yang terus membesar dan terdiri dari serpihan-serpihan super panas. Di dalam gelembung raksasa itu terdapat elektron energi tinggi yang bergerak dengan kecepatan lebih tinggi lagi. 

    Setelah Tycho supernova diamati sekian lama menggunakan Chandra X-ray Obeservasory, yang secara total mencapai waktu kurang lebih satu juta detik, peneliti berhasil menemukan struktur baru yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah pada sisa-sisa ledakan bintang tersebut.


    Sejumlah garis yang terlihat di puing-puing Tycho supernova menyediakan bukti-bukti adanya partikel yang telah diakselerasikan menjadi energi yang sangat tinggi.
    Ini merupakan petunjuk yang sangat penting untuk memahami lebih baik atas objek yang pertamakali dilihat oleh Tycho Brahe pada tahun 1572.

    BACA JUGA
  • Bulan
  • Kesetiaan Bumi
  • Durasi Satu Haru Planer Neptunus
  • Perbedaan Asteroid Komet dan Meteorolid
  • Durasi Satu Hari Planet Neptunus

    Pelacakan beberapa fitur tertentu di atmosfir, peneliti berhasil melakukan pengukuran akurat pertama terhadap periode rotasi planet Neptunus. Ternyata, satu hari di planet itu berlangsung tepat selama 15 jam, 57 menit dan 59 detik.



    Temuan ini memperkaya pengetahuan kita seputar hal yang fundamental di Neptunus dan menyediakan pula mekanisme untuk memahami bagaimana massa planet itu didistribusikan. Seperti diketahui, Neptunus merupakan planet raksasa yang terbuat dari gas.
    Neptunus memiliki dua fitur yang memungkinkan untuk dipantau oleh Hubble Space Telescope yang tampaknya mengatur rotasi interior dari planet tersebut,” kata Erich Karkoschka, ilmuwan dari Lunar and Planetary Laboratory, University of Arizona, seperti dikutip dari Cosmos Magazine, 4 Juli 2011.
    Fitur seperti ini, Karkoschka menyebutkan, tidak pernah dijumpai di planet gas raksasa lainnya.
    Untuk mencari tahu berapa durasi satu hari di planet itu, Karkoschka mengukur putaran Neptunus dengan mengamati dua fitur yang terlihat mata milik atmosfir planet tersebut. Ia kemudian mengukur garis bujur di antara setiap gambar yang ditangkap lalu menentukan interval waktu antara observasi dan menyediakan informasi periode putaran.

     

    Berhubung Neptunus telah berotasi sekitar 10 ribu kali dalam 20 tahun terakhir, Karkoschka dapat mengetahui secara akurat periode putaran dengan melacak fitur-fitur ini dalam jangka waktu tersebut.
    Hasil penelitian ini merupakan peningkatan pengetahuan yang signifikan terhadap rotasional planet gas sejak pertamakali Giovanni Cassini berhasil mendapati bintik merah planet Jupiter, pada 350 tahun lalu.
    Saat ini di kalangan ilmuwan sendiri tampak muncul konsensus bahwa temuan Karkoschka memang akurat. Menurut Craig O’Neill, ilmuwan antariksa dari Macquarie University, Australia, temuan Markoschka seputar periode fitur milik atmosfir Neptunus tepat.
    Selain itu, Karkoschka juga menunjukkan bahwa di kawasan kutub, kecepatan angin lebih rendah dibanding di khatulistiwa.

    BACA JUGA
  • Bulan
  • Kesetiaan Bumi
  • Ledakan Supernova
  • Perbedaan Asteroid Komet dan Meteorolid
  • Kamis, 27 Januari 2011

    Kesetiaan bumi pada matahari



    Tentunya kita semua sudah pada tahu bahwa bumi kita ini berputar terus pada sumbunya ,dan perputaran itu kita namakan rotasi bumi.  Bumi juga mengadakan perjalanan mengelilingi matahari.

    Selasa, 25 Januari 2011

    Bulan.


        Bulan memang  tidak bercahaya, mataharilah yang memberikan cahaya kemudian bulan memantulkan cahaya itu, hingga kita melihatnya bersinar kalau malam hari apalagi diwaktu bulan purnama. Adakah bulan yang lain selain bulan yang satu itu.