Selasa, 05 Juli 2011
The Flying Dutchman
Banyak versi dari cerita ini. Menurut beberapa, cerita ini berasal dari Belanda, sementara itu yang lain meng-claim bahwa itu berasal dari sandiwara Inggris The Flying Dutchman (1826) oleh Edward Fitzball dan novel “The Phantom Ship” (1837) oleh Frederick Marryat, kemudian di adaptasi ke cerita Belanda “Het Vliegend Schip” (The Flying Ship) oleh pastor Belanda A.H.C. Römer. Versi lainnya termasuk opera oleh Richard Wagner (1841) dan “The Flying Dutchman on Tappan Sea” oleh Washington Irving (1851)
Senin, 04 Juli 2011
Perbedaan Asteroid Komet dan Meteoroid
Menurut Near Earth Object Program NASA, asteroid merupakan benda berbatu yang ukurannya relatif kecil, tidak aktif, dan mengorbit Matahari
.
Komet, juga berukuran relatif kecil namun kadang merupakan sebuah benda aktif yang menguapkan es yang ia miliki saat terkena sinar matahari dan membentuk atmosfir (coma) yang terdiri dari debu dan gas. Terkadang, karena komet bergerak cukup cepat, ia membentuk ekor yang terdiri dari debu dan atau gas.
Meteoroid sendiri merupakan partikel kecil yang terlepas dari komet ataupun asteroid. Dari ketiganya, asteroid merupakan benda yang paling menarik untuk dipelajari para ilmuwan.
Seperti diketahui, sampai sejauh ini, ilmuwan belum bisa memahami sepenuhnya bagaimana kehidupan awal terbuat dari zat organik yang tidak hidup, bisa tumbuh dan berkembang di Bumi. Dengan mempelajari asteroid, kita bisa mengetahui lebih banyak.
Seperti diketahui, sampai sejauh ini, ilmuwan belum bisa memahami sepenuhnya bagaimana kehidupan awal terbuat dari zat organik yang tidak hidup, bisa tumbuh dan berkembang di Bumi. Dengan mempelajari asteroid, kita bisa mengetahui lebih banyak.
Dilansir Fox News, 30 Juni 2011, asteroid seperti 2 Pallas dan 10 Hygiea, yang diyakini pernah memiliki air, tampak memiliki senyawa organik (berbasis karbon) di dalamnya.
Saat ini, asteroid tersebut memiliki komposisi kimia yang lebih primitif dibandingkan dengan Bumi. Kondisinya serupa dengan saat tata surya kita masih baru terbentuk, menurut Carol Raymond, Deputy Principal Investigator NASA. Dengan mempelajarinya, kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan bisa muncul di planet ini,
Saat ini, asteroid tersebut memiliki komposisi kimia yang lebih primitif dibandingkan dengan Bumi. Kondisinya serupa dengan saat tata surya kita masih baru terbentuk, menurut Carol Raymond, Deputy Principal Investigator NASA. Dengan mempelajarinya, kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan bisa muncul di planet ini,
Raymond menyebutkan, ada beberapa kondisi yang menjadikan Bumi sangat kondusif bagi kehidupan di masa lalu. Selain itu, ilmuwan berpendapat bahwa asteroid yang mendarat di Bumi pada zaman dahulu kala telah memberikan materi pembentuk yang membantu memulai kehidupan di planet ini.
Bekas Ledakan Supernova
Lebih dari 400 tahun lalu, astronom Denmark, Tycho Brahe, mempelajari ledakan bintang yang kemudian diberi nama Tycho supernova. Namun ketika itu, tidak banyak informasi yang bisa didapat.
Kini astronom dapat melihat lebih detil ledakan supernova itu dengan sinar X. Menggunakan Chandra X-ray Obeservasory milik NASA, tampak puing-puing supernova itu menjadi seperti gelembung yang terus membesar dan terdiri dari serpihan-serpihan super panas. Di dalam gelembung raksasa itu terdapat elektron energi tinggi yang bergerak dengan kecepatan lebih tinggi lagi.
Setelah Tycho supernova diamati sekian lama menggunakan Chandra X-ray Obeservasory, yang secara total mencapai waktu kurang lebih satu juta detik, peneliti berhasil menemukan struktur baru yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah pada sisa-sisa ledakan bintang tersebut.
Sejumlah garis yang terlihat di puing-puing Tycho supernova menyediakan bukti-bukti adanya partikel yang telah diakselerasikan menjadi energi yang sangat tinggi.
Ini merupakan petunjuk yang sangat penting untuk memahami lebih baik atas objek yang pertamakali dilihat oleh Tycho Brahe pada tahun 1572.
Ini merupakan petunjuk yang sangat penting untuk memahami lebih baik atas objek yang pertamakali dilihat oleh Tycho Brahe pada tahun 1572.
Durasi Satu Hari Planet Neptunus
Pelacakan beberapa fitur tertentu di atmosfir, peneliti berhasil melakukan pengukuran akurat pertama terhadap periode rotasi planet Neptunus. Ternyata, satu hari di planet itu berlangsung tepat selama 15 jam, 57 menit dan 59 detik.
Temuan ini memperkaya pengetahuan kita seputar hal yang fundamental di Neptunus dan menyediakan pula mekanisme untuk memahami bagaimana massa planet itu didistribusikan. Seperti diketahui, Neptunus merupakan planet raksasa yang terbuat dari gas.
Neptunus memiliki dua fitur yang memungkinkan untuk dipantau oleh Hubble Space Telescope yang tampaknya mengatur rotasi interior dari planet tersebut,” kata Erich Karkoschka, ilmuwan dari Lunar and Planetary Laboratory, University of Arizona, seperti dikutip dari Cosmos Magazine, 4 Juli 2011.
Fitur seperti ini, Karkoschka menyebutkan, tidak pernah dijumpai di planet gas raksasa lainnya.
Untuk mencari tahu berapa durasi satu hari di planet itu, Karkoschka mengukur putaran Neptunus dengan mengamati dua fitur yang terlihat mata milik atmosfir planet tersebut. Ia kemudian mengukur garis bujur di antara setiap gambar yang ditangkap lalu menentukan interval waktu antara observasi dan menyediakan informasi periode putaran.
Neptunus memiliki dua fitur yang memungkinkan untuk dipantau oleh Hubble Space Telescope yang tampaknya mengatur rotasi interior dari planet tersebut,” kata Erich Karkoschka, ilmuwan dari Lunar and Planetary Laboratory, University of Arizona, seperti dikutip dari Cosmos Magazine, 4 Juli 2011.
Fitur seperti ini, Karkoschka menyebutkan, tidak pernah dijumpai di planet gas raksasa lainnya.
Untuk mencari tahu berapa durasi satu hari di planet itu, Karkoschka mengukur putaran Neptunus dengan mengamati dua fitur yang terlihat mata milik atmosfir planet tersebut. Ia kemudian mengukur garis bujur di antara setiap gambar yang ditangkap lalu menentukan interval waktu antara observasi dan menyediakan informasi periode putaran.
Berhubung Neptunus telah berotasi sekitar 10 ribu kali dalam 20 tahun terakhir, Karkoschka dapat mengetahui secara akurat periode putaran dengan melacak fitur-fitur ini dalam jangka waktu tersebut.
Hasil penelitian ini merupakan peningkatan pengetahuan yang signifikan terhadap rotasional planet gas sejak pertamakali Giovanni Cassini berhasil mendapati bintik merah planet Jupiter, pada 350 tahun lalu.
Saat ini di kalangan ilmuwan sendiri tampak muncul konsensus bahwa temuan Karkoschka memang akurat. Menurut Craig O’Neill, ilmuwan antariksa dari Macquarie University, Australia, temuan Markoschka seputar periode fitur milik atmosfir Neptunus tepat.
Selain itu, Karkoschka juga menunjukkan bahwa di kawasan kutub, kecepatan angin lebih rendah dibanding di khatulistiwa.
Hasil penelitian ini merupakan peningkatan pengetahuan yang signifikan terhadap rotasional planet gas sejak pertamakali Giovanni Cassini berhasil mendapati bintik merah planet Jupiter, pada 350 tahun lalu.
Saat ini di kalangan ilmuwan sendiri tampak muncul konsensus bahwa temuan Karkoschka memang akurat. Menurut Craig O’Neill, ilmuwan antariksa dari Macquarie University, Australia, temuan Markoschka seputar periode fitur milik atmosfir Neptunus tepat.
Selain itu, Karkoschka juga menunjukkan bahwa di kawasan kutub, kecepatan angin lebih rendah dibanding di khatulistiwa.
Kamus Blog
Dalam perkembangan tehnologi dengan berjalannya iringan waktu, semakin lama kemajuan yang dicapai oleh tehnologi demikian sangat pesatnya, sampai apapun yang tersembunyi didalam ataupun diluar bumi dapat diketahui dengan mudah, Dengan tehnologi apapun dapat diraih, walaupun mungkin itu hal yang tak mungkin sekalipun. Seperti kita yang pada awalnya tidak memahami apa itu Blog, dengan tehnologi akhirnya kita dapat mengerti dan memahami bahkan menciptakan sesuatu yang pada awalnya kita tidak pernah memikirkan.Dengan adanya tehnologi tercipta kemudian istilah-istilah dalam dunia mesin data, salah satunya adalah istilah blog
Jumat, 01 Juli 2011
Mobil Produksi Indonesia
Indonesia disamping kaya akan hutan dan tambang, ternyata Indonesia adalah negara yang cukup mampu dalam bidang tehnologinya. Lihat saja produk pesawat terbang. Dan kali ini Indonesia menampilkan produksi mobil-mobil, yang kalau dinilai secara kreatifitas tentu saja produk-produk ini tidak akan kalah dengan buatan luar negeri, namun dalam segi kwalitas mungkin produk-produk ini harus banyak membutuhkan waktu lagi untuk bersaing di pasar internasional.. Namun dengan yang ini saja berbanggalah kita, bahwa ternyata Indonesia adalah negara yang patut diperhitungkan untuk pasar otomotifnya. Lihat saja.
Goa Ajanta
Maharashtra, salah satu dari banyak peninggalan kuno yang ada di India. Yang menakjubkan di goa ini banyak terdapat lukisan juga patung-patung Buddha bernilai seni tinggi. Diperkirakan, monumen-monumen yang ada dalam goa ini mulai digarap pada abad ke 2 BC.
Langganan:
Postingan (Atom)















